Sunday, September 7, 2008

Mencegah Penyakit Jantung Dan Stroke

Penyakit jantung dan stroke merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan. Bahkan sekarang ini di Indonesia penyakit jantung menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian.
Penyakit jantung dan stroke sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. Dulu memang penyakit-penyakit tersebut diderita oleh orang tua terutama yang berusia 60 tahun ke atas, karena usia juga merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Namun sekarang ini ada kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.
Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit jantung dan stroke.

Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung & Stroke
Ada berbagai macam penyakit jantung, namun penyakit jantung yang umumnya ditakuti adalah jantung koroner karena menyerang pada usia produktif dan dapat menyebabkan serangan jantung hingga kematian mendadak. Penyebab penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner.
Penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi. Hal ini mengurangi atau menghentikan aliran darah ke otot jantung sehingga mengganggu kerja jantung sebagai pemompa darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan oksigen dan nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang. Pembentukan plak lemak dalam arteri akan mempengaruhi pembentukan bekuan darah yang akan mendorong terjadinya serangan jantung.
Ada empat faktor utama penyebab penyakit jantung, yaitu :
merokok terlalu berlebihan selama bertahun-tahun
kadar lemak darah (kolesterol) yang tinggi
tekanan darah tinggi
penyakit kencing manis
Seperti halnya penyakit jantung, stroke juga erat kaitannya dengan gangguan pembuluh darah. Stroke terjadi karena ada gangguan aliran darah ke bagian otak. Bila ada daerah otak yang kekurangan suplai darah secara tiba-tiba dan penderitanya mengalami gangguan persarafan sesuai daerah otak yang terkena. Bentuknya dapat berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, gangguan rasa (sensasi) di kulit sebelah wajah, lengan atau tungkai.
Faktor-faktor risiko untuk terjadinya stroke mempunyai kesamaan dengan faktor risiko penyakit jantung, yaitu :
Merokok
Hipertensi
Kadar lemak darah tinggi
Diabetes mellitus
Gangguan pembuluh darah/jantung
Tingginya jumlah sel darah merah
Kegemukan (obesitas)
Kurang aktifitas fisik/olah raga
Minuman alcohol
Penyalahgunaan obat (Narkoba)
Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke dengan Pola Hidup Sehat
Upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut.
Untuk pencegahan penyakit jantung & stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi. Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan. Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya. Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
Berhenti merokok merupakan target yang harus dicapai, juga hindari asap rokok dari lingkungan. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.
Kurangi minum alkohol. Makin banyak konsumsi alkohol maka kemungkinan stroke terutama jenis hemoragik makin tinggi. Alkohol dapat menaikan tekanan darah, memperlemah jantung, mengentalkan darah dan menyebabkan kejang arteri.
Lakukan Olahraga/aktivitas fisik. Olahraga dapat membantu mengurangi bobot badan, mengendalikan kadar kolesterol, dan menurunkan tekanan darah yang merupakan faktor risiko lain terkena jantung dan stroke
Kendalikan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah. Hipertensi merupakan faktor utama terkena stroke dan juga penyakit jantung koroner. Diabetes juga meningkatkan risiko stroke 1,5-4 kali lipat, terutama apabila gula darahnya tidak terkendali.
Hindari penggunaan obat-obat terlarang seperti heroin, kokain, amfetamin, karena obat-obatan narkoba tersebut dapat meningkatkan risiko stroke 7 kali lipat dibanding dengan yang bukan pengguna narkoba.

Antioksidan dan penyakit jantung aterosklerosis

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa mereka yang minum vitamin E dan C dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit jantung koroner (PJK).

Hal ini sesuai dengan hipotesis "modifikasi oksidatif", yang mengemukakan bahwa awal dari proses aterosklerosis adalah oksidasi lemak yang terjadi pada lipoprotein densitas rendah (LDL), juga disebut perioksidasi lemak.

Studi antioksidan dan penurunan kejadian kardiovaskuler

Pada nurses "Healthy Study dan Health Professionals" Follow-up Study, terdapat penurunan 35-45% kejadian major coronary events (infark non fatal dan kematian akibat jantung) pada subjek dengan asupan vitamin E dengan kuantil tertinggi, diamati 4-8 tahun, dibandingkan dengan kuantil terendah. Keuntungan terbesar pada subjek yang mendapatkan 100-250 IU suplemen vitamin E/hari, dengan sedikit tambahan keuntungan pada dosis tinggi. Minum vitamin C lebih dari 50 mg/hari angka kematiannya lebih rendah dari semua kematian akibat penyakit kardiovaskuler (PKV). Penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan antara vitamin C dan kejadian serangan jantung.Resistensi LDL terhadap oksidasi

Pemberian suplemen antioksidan yang larut dalam lemak seperti α-tocopherol atau probucol dibuktikan dengan studi klinik, meningkatkan resistensi LDL pada modifikasi oksidatif. Sebaliknya, suplementasi beta karoten tidak memproteksi LDL terhadap oksidasi walaupun terjadi akumulasi dalam partikelnya. Asam askorbat (vitamin C) juga memproteksi LDL tetapi tidak masuk didalam partikelnya sebab larut dalam air.

Kerja Larut Malam Sebabkan Risiko Kanker

Anda suka kerja larut malam atau selalu melakukan kerja shift malam?
Saatnya Anda mempertimbangkan pengaruhnya bagi kesehatan Anda. Sebuah penelitian terbaru dari WHO menyatakan bahwa jam kerja larut malam dapat memperbesar peluang terserangnya kanker.
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa rata-rata penderita kanker prostat dan kanker payudara adalah mereka yang berkerja hingga larut malam. Selain itu, mereka yang bekerja shift pada malam hari juga mempunyai peluang lebih tinggi terserang kanker. Namun, lembaga masyarakat kanker Amerika masih meneliti kebenaran dari hasil temuan ini.
Lembaga masyarakat kanker Amerika memang masih meragukan bahwa kerja hingga larut malam berpengaruh terhadap seseorang untuk terserang kanker. Lembaga ini lebih setuju bahwa kerja shift dapat menyebabkan seseorang berpeluang lebih untuk merangsang faktor-faktor penyebab kanker.
Meskipun belum ada bukti yang kuat, namun kerja hingga larut malam sangat berbahaya. Tidak hanya merusak ritme jantung, tapi juga fungsi biologis tubuh. Hormon melatonin yang menjadi pendorong bagi perkembangan tumor umumnya diproduksi pada malam hari.
Jika temuan baru tentang sistem kerja shift yang memperbesar peluang terkena kanker, tentu akan sangat berpengaruh nyata bagi masyarakat dunia. Hampir 20% masyarakat dunia saat ini bekerja pada shift malam.
Pada beberapa studi beberapa tahun ini, ditemukan bahwa wanita yang bekerja pada malam hari cenderung lebih mudah terserang kanker payudara. Hal itu juga didukung oleh kenyataan bahwa binatang malam lebih mudah terserang tumor dan lebih awal mati. Sedangkan pada kaum pria, bekerja pada malam hari diketahui juga bisa mempertinggi peluang terserang kanker prostat.
Shift malam tentu akan membuat orang berusaha terjaga pada saat bekerja. Hal itulah yang membuat orang tidak cukup tidur, sehingga sistem kekebalan tubuh mudah diserang dan kehilangan kekuatan untuk menangkal sel-sel kanker yang mengancam.
Pekerjaan pada malam hari sering membuat pola hidup seseorang terganggu. Selain itu, serangan insomnia secara teori juga dapat meningkatkan risiko terserang kanker. Tak hanya itu, sistem penerangan saat bekerja di malam hari diyakini menjadi salah satu penyebab kanker karena cahaya lampu ternyata mengeluarkan melatonin yang dapat merangsang pertumbuhan sel kanker. Selama ini diketahui sinar lampu dan sisa hasil pembakaran menjadi faktor yang mempermudah seseorang terserang kanker.

(Sumber: Internet)

Olah raga VS Jantung...

OLAHRAGA tidak bakal menghindarkan seseorang dari serangan jantung. Bernarkah? Ternyata hal ini berlaku pada mereka yang sudah terlalu gemuk atau kegemukan.

Kecuali, bila orang tersebut sudah langsing atau kurus, olahraga bisa bermanfaat menghindarkannya dari serangan jantung. Demikian sebuah penelitian atas jutaan wanita penduduk Amerika Serikat mengungkap."Sekeras apapun olahraga yang dilakukan, bahkan sampai keringatan sekalipun, bila berat badan tidak diturunkan, serangan jantung bakal tidak bisa dihindari," ungkap Dr. Amy Weinsten dan koleganya di Boston Beth Israel Deaconess Medical Center."Karena itu, para wanita (dan tentu saja pria) disarankan agar konsultasi dengan dokter dan mengikuti program penurunan berat badan yang mengikut sertakan olahraga sebagai salah satu metodenya secara teratur untuk menghindari diri dari serangan jantung," jelas para dokter ini menyimpulkan.Penelitian yang dipublikasikan di Archives of Internal Medicine ini dibuat berdasar informasi dari sebuah penelitian atas 39.000 wanita yang mulai tahun 1992 dan terekam jejak penyakitnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa 34 persen wanita secara fisik aktif, 31 persen kegemukan dan 81 persen gemuk.Di akhir penelitian, 948 wanita terdiagnosa mengidap penyakit jantung. Para wanita yang aktif dengan berat badan normal jauh lebih ringan risikonya menderita penyakit jantung. Sementara para wanita yang berat badannya normal namun tidak aktif, risiko terkena serangan jantung justru lebih besar.Risiko ini jauh lebih tinggi pada mereka yang mengalami kegemukan atau obesitas dan gemuk saja. Dan tentu saja lebih tinggi lagi risikonya bila si obesitas tadi tidak pernah bergerak sama sekali.Sel-sel lemak memproduksi zat-zat kimia yang dapat mempercepat pengerasan pembuluh darah arteri dan meningkatkan peradangan, ujar para peneliti, sehingga membahayakan pembuluh darah. Aktivitas fisik atau olahraga dalam hal ini akan membuat pembuluh darah menjadi lentur atau lebih sehat sehingga risiko terjadinya penggumpalan darah bisa terhindarkan.

(ABD. Kompas.com)

Wanita Obesitas Berisiko Kanker

Para wanita yang memiliki berat badan diatas rata-rata, baik overweight maupun obesitas, harus meningkatkan kewaspadaannya. Diperkirakan pada wanita overweight dan obesitas yang memasuki usia lanjut akan memiliki risiko terkena penyakit kanker, termasuk kanker rahim dan kanker yang berhubungan dengan saluran makanan.
Menurut studi yang didanai oleh Cancer Research UK ini, setiap tahunnya ada sekitar 6,000 orang di usia pertengahan ataupun manula yang terkena penyakit kanker karena berkaitan dengan bentuk badan mereka yang overweight dan obesitas.
Studi tersebut melibatkan 1 juta wanita dalam 7 tahun dengan 45.000 kasus kanker. Hasil studi dipublikasikan melalui British Medical Journal dengan menunjuk 50% kasus kanker yang terbesar berkaitan dengan kanker rahim dan saluran makanan.
Paparan tersebut hampir sama dengan studi internasional yang diluncurkan dengan menunjuk adanya kaitan antara kanker dengan berat badan. Studi yang memantau para wanita berusia 50-64 tahun ini mencatat bahwa selama 7 tahun telah terjadi 45.000 kasus kanker dimana 17.000 diantaranya diakhiri dengan kematian.
Para peneliti memperkirakan bahwa obesitas dan overweight menjadi pemicu utama terjadinya sejumlah kasus kanker. Selain itu, hubungan antara berat badan dan kanker sangat erat dengan usia wanita itu sendiri. Sebagai contoh, timbulnya kanker payudara pada wanita obesitas atau overweight akan mulai terjadi setelah si wanita memasuki masa menopause. Termasuk dalam dampak dari menopause adalah terjadinya kanker pada bagian usus besar.
Dampak dari kaitan antara overweight dengan kanker adalah: rahim, saluran makanan, ginjal, leukemia, payudara, multiple myeloma (bone marrow), prankreas, non-hodgkin''s lymphoma dan saluran kandungan.

Sumber: British Medical

Wanita Pekerja Beresiko Kena Gangguan Jantung

Kaum pekerja wanita yang memiliki aktifitas tinggi termasuk tekanan ditempat kerja kemungkinan akan mengalami resiko terkena masalah yang berhubungan dengan jantung.

Hal itu terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Elaine D. Eaker dari Eaker Epidemiology Enterprises Wisconsin (AS). Menurutnya wanita pekerja keras yang mendapatkan tekanan tinggi yang dikombinasikan dengan kepribadian pada wanita itu sendiri akan menjadi sebuah jalan pintas bagi sang wanita untuk terkena resiko bermasalah atas jantung. Untuk bisa mendapatkan hasil yang pas, Dr Elaine melakukan penelitian atas 3000 wanita yang berusia 18-77 tahun selama 10 tahun.
Wanita yang memiliki pekerjaan dengan posisi yang tinggi atau memiliki otoritas yang menentukan akan memiliki resiko terkena penyakit jantung. Kondisi yang serupa ternyata tidak berlaku pada pria, demikian hasil penelitian Dr Elaine berusaha membandingkan jenis pekerjaan dengan penyakit jantung antara wanita dan pria.
Karena pria bergantung pada pekerjaann itu sendiri dan tidak memiliki hubungan dengan resiko terkena penyakit jantung. Selain tekanan pekerjaan, tekanan atas gaya hidup ternyata juga menjadi salah satu pemicu penyakit jantung pada wanita. Karena dibandingkan dengan pria, pekerjaan merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Hasil studi ini membuktikan kesimpulan bahwa posisi yang tinggi pada pekerjaan akan semakin membuat resiko terkena penyakit jantung juga semakin naik. Dalam paparan yang dipublikasikan oleh The American Journal of Epidemology itu, ia berbependapat bahwa wanita mengalami mengalami resiko tiga kali lebih tinggi jika berada pada posisi pekerjaan yang menentukan.
Dr Elaine menuturkan bahwa tingginya penghasilan dan posisi jabatan pada pria akan membuat mereka mengalami resiko paling rendah terkena serangan jantung dan kematian. Malah Dr Elaine memberikan posisi pekerjaan sebagai pekerja laboratorium dan operator memiliki rating yang paling tinggi terkena penyakit jantung dan kematian.
Sementara pada pria dengan professional atau managerial memiliki resiko paling rendah. Mengenai penyebab posisi pekerjaan dan resiko terkena penyakit jantung pada wanit sejauh ini tidaklah jelas. Namun Dr Elaine berspekulasi bahwa faktor sosial mungkin merupakan salah satu dampak yang paling berpengaruh.
Karena studi yang dilakukan oleh Dr Elaine memang dilakukan pada tahun 1980 dimana sejumlah wanita di AS menduduki posisi jabatan yang menentukan. "Mereka mungkin akan merasa terkucil dari masyarakat," demikian menurutnya. Namun ia tidak bisa memperkirakan apakah dengan perubahan fungsi sosial itu mampu juga merubah hasil penelitian.

(www.kapanlagi.com)

Life Style, Pencetus Stroke di Usia Produktif !

Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena stroke pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke.
Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengonsumsi makanan berlemak dan narkoba.Life style atau gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengonsumsi makanan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol, tapi rendah serat.Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang nantinya harus mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lainnya dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selagi stroke masih bisa dicegah, kenapa tidak mencoba? Pertama, dengan menjalankan perilaku hidup sehat sejak dini. Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko secara optimal harus dijalankan. Ketiga, melakukan medical check up secara rutin dan berkala dan si pasien harus mengenali tanda-tanda dini stroke.Untuk mencegah "the silent killer" ini, seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan.

(www.info-sehat.com)